News

Pemkab Lumajang Percepat Pembangunan Infrastruktur Pengendali Lahar Semeru

342
×

Pemkab Lumajang Percepat Pembangunan Infrastruktur Pengendali Lahar Semeru

Sebarkan artikel ini
Warga melihat material lahar Gunung Semeru yang mengalir di Kali Regoyo, Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur (Foto: BPBD )

THEINDONEWS.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang membangun infrastruktur pengendali lahar Gunung Semeru sebagai upaya mempercepat mitigasi bencana sekaligus melindungi masyarakat di kawasan rawan terdampak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, mengatakan pembangunan infrastruktur tersebut merupakan investasi keselamatan jangka panjang bagi masyarakat. Menurutnya, proyek ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata.

Scroll down to see content
Advertisement

“Ini bukan sekadar pembangunan fisik sesaat, tetapi investasi keselamatan jangka panjang untuk melindungi masyarakat dari risiko bencana Gunung Semeru,” kata Agus dalam keterangannya di Lumajang, Sabtu (7/2/2026).

Pembangunan infrastruktur pengendali lahar ini merupakan bagian dari program Bantuan Pengurangan Risiko Bencana Vulkanik atau Volcanic Disaster Risk Reduction Sector Loan (VDRRSL), yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Proyek VDRRSL di Lumajang terbagi dalam dua paket utama, yakni Paket S2 dan Paket S4.

Paket S2 berlokasi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Paket ini difokuskan untuk memperkuat mitigasi di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Bondoyudo–Bedadung, yang selama ini menjadi jalur utama aliran lahar Gunung Semeru.

Lingkup pekerjaan Paket S2 meliputi pembangunan dua unit bangunan pengendali sedimen berupa check dam atau sabodam, serta penyangga beton sepanjang sekitar 900 meter. Selain itu, juga dibangun jalan akses dan pelintas dengan panjang kurang lebih 500 meter.

Infrastruktur tersebut dirancang mampu menampung material sedimen dan debris vulkanik hingga sekitar 1 juta meter kubik. Keberadaan bangunan ini diharapkan dapat mengurangi daya rusak aliran lahar sebelum mencapai kawasan permukiman dan lahan pertanian di wilayah hilir.

Sementara itu, Paket S4 berlokasi di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, yang menyasar wilayah tengah hingga hilir DAS Bondoyudo–Bedadung. Kawasan ini diketahui memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir lahar dan sedimentasi.

READ  DPRD dan Pemprov Jatim Sepakati Perubahan APBD 2025, Anggaran Rp4,7 Triliun Siap Dialokasikan

Paket S4 mencakup pembangunan satu unit consolidation dam, enam ruas tanggul pengarah aliran dengan total panjang sekitar 2.500 meter, serta penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) secara ketat selama proses pembangunan.

Dengan kapasitas tampungan sedimen sekitar 0,34 juta meter kubik, Paket S4 diharapkan mampu melindungi kawasan Candipuro sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur dan keberlangsungan aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat.

Pemkab Lumajang menyatakan telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pelaksanaan proyek tersebut. Pembangunan ini menjadi bagian dari strategi penguatan tata kelola mitigasi bencana dengan menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.

Program VDRRSL sendiri dirancang untuk merespons karakteristik risiko Gunung Semeru yang bersifat berulang, progresif, dan berdampak lintas wilayah. Kawasan sepanjang DAS Bondoyudo–Bedadung diketahui menjadi wilayah yang kerap terdampak aliran lahar.

Meski demikian, Pemkab Lumajang menegaskan bahwa pelaksanaan proyek tetap memperhatikan kondisi sosial di lapangan, khususnya aktivitas penambangan pasir rakyat yang menjadi sumber penghidupan sebagian masyarakat.

“Mitigasi bencana harus berjalan seiring dengan pengelolaan sosial. Koordinasi lintas sektor mutlak diperlukan agar pembangunan tetap tertib, aman, dan tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat,” ujar Agus.

Ia menambahkan, keberhasilan proyek VDRRSL tidak hanya diukur dari terbangunnya infrastruktur fisik, tetapi juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu menurunkan risiko bencana serta membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana yang terencana dan berkelanjutan. (UVQ)