News

Bagikan Pembalut kepada Polwan, Srikandi Bergerak Kritik Kebijakan Pajak

317
×

Bagikan Pembalut kepada Polwan, Srikandi Bergerak Kritik Kebijakan Pajak

Sebarkan artikel ini
Aksi (foto Istimewa)

THEINDONEWS.COM – Ratusan perempuan yang tergabung dalam Srikandi Bergerak dan Aliansi Suroboyo Bergerak menggelar aksi penyampaian aspirasi secara damai di Taman Apsari, Surabaya, Minggu (8/11/2026). Dalam aksi tersebut, massa membagikan pembalut kepada polisi wanita (Polwan) sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan pengenaan pajak pembalut sebesar 11 persen.

Aksi berlangsung kondusif dengan berbagai kegiatan yang mengedepankan penyampaian aspirasi secara damai. Sejumlah peserta membawa pesan-pesan terkait keresahan terhadap kebijakan pemerintah, terutama yang dinilai berdampak pada kebutuhan dasar perempuan.

Scroll down to see content
Advertisement

Selain pembagian pembalut, aparat kepolisian juga membagikan bunga kepada peserta aksi sebagai simbol perdamaian dan upaya menjaga suasana tetap kondusif.

Juru Bicara Srikandi Bergerak, Putri Bunga, mengatakan pembagian pembalut kepada Polwan merupakan bentuk sindiran sekaligus pesan kepada pemerintah agar mempertimbangkan kembali pengenaan pajak terhadap produk kebutuhan menstruasi tersebut.

Menurutnya, pembalut merupakan kebutuhan dasar perempuan yang tidak dapat dihindari setiap bulan. Karena itu, pengenaan pajak dinilai dapat menambah beban pengeluaran masyarakat, terutama perempuan dari kelompok ekonomi menengah ke bawah yang juga menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi global.

“Kok mereka tega gitu, memajaki rahim kita sendiri yang melahirkan generasi Indonesia juga. Kok dipajaki gitu. Ini tuh kita memberikan ke mereka tuh sebagai bentuk sarkasme kalau misalnya kita bisa loh saling mendahulukan kepentingan rahim kita,” kata Putri Bunga.

Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat. Menurutnya, kebutuhan dasar perempuan seharusnya mendapatkan perhatian agar tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga.

Putri juga mempertanyakan alasan pengenaan pajak terhadap produk menstruasi yang menjadi kebutuhan rutin perempuan.

“Masyarakat kita bayar pajak, harusnya ya hal-hal dasar kayak gini kita kan tidak minta untuk berdarah setiap bulan, ya tidak usah dipajakin, gitu,” katanya.

READ  Tarif Trump 19%: Ekspor Indonesia Belum Terdampak Signifikan Hingga Akhir Agustus.

Srikandi Bergerak Soroti Kebijakan Kesehatan dan Karhutla

Selain mendesak penghapusan pajak pembalut, aksi Srikandi Bergerak dan Aliansi Suroboyo Bergerak juga menyuarakan sejumlah persoalan lain yang menjadi perhatian masyarakat.

Beberapa di antaranya berkaitan dengan program kesehatan serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Melalui penyampaian aspirasi tersebut, massa aksi berharap pemerintah tidak hanya memperhatikan persoalan penerimaan negara, tetapi juga mengevaluasi kebijakan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar dan kesejahteraan masyarakat.

Aksi damai di Taman Apsari tersebut menjadi ruang bagi kelompok perempuan untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendorong perhatian pemerintah terhadap isu-isu yang dinilai berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Srikandi Bergerak berharap berbagai tuntutan yang disampaikan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, sehingga kebijakan publik semakin memperhatikan kebutuhan masyarakat, termasuk akses terhadap produk kesehatan dan kebutuhan menstruasi perempuan. (CZJ)