News

Banyuwangi Unjuk Praktik Industri Kayu Berkelanjutan di Hadapan Delegasi 16 Negara

374
×

Banyuwangi Unjuk Praktik Industri Kayu Berkelanjutan di Hadapan Delegasi 16 Negara

Sebarkan artikel ini

THEINDONEWS.COM – Sebanyak 36 delegasi yang berasal dari 16 negara berkumpul di Kabupaten Banyuwangi untuk mengikuti program internasional bertajuk Capacity Building for Like-Minded Countries (LMCs): Sustainable Timber. Selama empat hari, para peserta lintas negara ini mendalami praktik pengelolaan pertanian, perkebunan, hingga industri kayu berkelanjutan yang diterapkan di Indonesia. Sabtu, (27/06/2026).

Program strategis ini diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI yang bekerja sama dengan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University, serta didanai penuh oleh Lembaga Dana Kerja Sama Pembangunan Internasional (LDKPI). Peserta yang hadir terdiri atas perwakilan pemerintah serta pemangku kepentingan (stakeholders) di sektor kehutanan global.

Scroll down to see content
Advertisement

Direktur Kerja Sama Intrakawasan dan Antarkawasan Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Erma Rheindrayani, menjelaskan bahwa agenda ini merupakan program tahunan dengan fokus komoditas strategis yang berganti setiap tahunnya.

“Ini merupakan program tahunan dengan fokus pada komoditas strategis yang berbeda setiap tahunnya. Pada 2024 program difokuskan pada komoditas kelapa sawit, sedangkan pada 2025 membahas kopi dan kakao,” kata Erma saat diterima oleh Bupati Banyuwangi di Pendopo Sabha Swagata Blambangan.

Fokus pada Legalitas dan SVLK untuk Akses Pasar Global
Kepala CTSS IPB University, Prof. Damayanti Buchori, menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas peserta dalam pengelolaan komoditas kayu yang legal, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Selain itu, forum ini menjadi wadah krusial untuk saling berbagi pengalaman (sharing session) antarnegara sahabat.

“Selama pelaksanaan kegiatan, peserta mengikuti sesi pembelajaran di Jakarta dan Bogor serta kunjungan lapangan di Banyuwangi untuk mempelajari berbagai praktik pengelolaan kayu dan industri kayu di Indonesia,” papar Damayanti.

READ  Banyuwangi Wajibkan Dapur Program Makan Bergizi Kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi

Salah satu pilar materi utama yang dipelajari secara mendalam oleh para delegasi adalah implementasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK). SVLK merupakan instrumen nasional andalan Indonesia untuk menjamin:

1. Legalitas asal-usul kayu.

2. Ketertelusuran (traceability) produk dari hulu ke hilir.

3. Keberlanjutan (sustainability) produk kayu guna menembus pasar ekspor yang ketat.

Potensi Besar Banyuwangi dan Keterlibatan Masyarakat
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut baik dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi field trip utama program ini. Menurut Ipuk, Banyuwangi memiliki modal geografi dan ekologi yang luar biasa, termasuk keberadaan tiga taman nasional yang menjadi benteng kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

“Kami tidak hanya berupaya mengembangkan sektor perkebunan, kehutanan, pertanian, perikanan, dan pariwisata secara berkelanjutan, namun juga terus berupaya melibatkan masyarakat setempat untuk tumbuh bersama,” tutur Ipuk.

Ipuk menaruh harapan besar agar forum internasional berskala besar ini tidak hanya berhenti pada ruang diskusi, melainkan mampu menelurkan jejaring kerja sama yang konkret dan membuka peluang investasi baru bagi industri pengolahan kayu lokal yang sebetulnya sudah lama menembus pasar global.

“Selain dikenal sebagai penghasil kopi, kakao, beras organik, kelapa, dan produk perikanan, Banyuwangi juga memiliki industri pengolahan kayu yang telah menembus pasar ekspor. Semoga lewat forum ini, kita bisa berjejaring saling sharing praktik-praktik baik dan tentunya membuka peluang kerja sama yang lebih luas,” pungkas Ipuk. (KMP)