THEINDONEWS.COM – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) kembali menegaskan komitmennya dalam membangun dan memperkuat budaya keselamatan kerja di lingkungan pelabuhan. Langkah ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Safety Forum Triwulan II Tahun 2026 yang digelar di TPK Teluk Lamong baru-baru ini.
Mengusung tema “Lesson Learned Fatality Pelindo Grup Tahun 2026 dan Blind Spot Awareness”, forum ini menjadi wadah strategis untuk berbagi pembelajaran dari insiden kerja, meningkatkan kesadaran terhadap potensi risiko, serta memperkuat sinergi implementasi Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) bersama seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
Komitmen penerapan standar keselamatan yang ketat ini dibuktikan dengan raihan prestasi impresif, yakni 25.372.483 jam kerja aman di TPK Teluk Lamong selama periode April–Juni 2026. Capaian ini merupakan hasil kolaborasi solid antara 175 pekerja internal TPK Teluk Lamong dan 945 tenaga kerja dari mitra kerja dalam menjaga operasional terminal yang aman dan andal.
Kolaborasi Lintas Mitra Kerja dan Aksi Hijau
Kegiatan Safety Forum ini diikuti oleh jajaran manajemen PT Terminal Teluk Lamong serta jajaran mitra kerja strategis, di antaranya PT Pelindo Daya Sejahtera, PT BIMA, PT APERINDO, PT Lamong Energi Indonesia, Koordinator Koperasi Pelabuhan Indonesia, PT Puskopal, PT Pelindo Husada Citra, PT MTI, PT TEDS, PT NPMA, hingga PT BST.
Sebagai bentuk komitmen terhadap aspek keselamatan sekaligus keberlanjutan lingkungan, rangkaian acara diawali dengan penanaman pohon bersama di kawasan Terminal Teluk Lamong. Aksi ini menjadi simbol kolaborasi dalam mewujudkan lingkungan kerja yang tidak hanya aman, tetapi juga hijau dan berkelanjutan.
Keselamatan Adalah Nilai Utama yang Tak Bisa Ditawar
Saat membuka forum secara resmi, Direktur Operasi dan Teknik PT Terminal Teluk Lamong, Muhammad Syukur, menegaskan bahwa keselamatan kerja harus menjadi budaya yang melekat dalam setiap aktivitas operasional, bukan sekadar menggugurkan kewajiban regulasi.
“Keselamatan adalah nilai utama yang tidak dapat ditawar. Seluruh insan perusahaan maupun mitra kerja memiliki tanggung jawab yang sama untuk memastikan setiap pekerjaan dilakukan secara aman sehingga setiap pekerja dapat pulang ke rumah dalam keadaan selamat. Budaya safety harus dibangun melalui kepedulian, disiplin, dan keberanian untuk saling mengingatkan,” tegas Muhammad Syukur.
Senada dengan hal tersebut, Terminal Head TPK Teluk Lamong, Pierre Rochel Tumbol, mengajak seluruh peserta menjadikan setiap peristiwa atau insiden di lingkungan Pelindo Grup sebagai evaluasi dan pembelajaran berharga.
“Setiap kejadian merupakan pengingat bahwa risiko selalu ada dalam aktivitas operasional. Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar, melakukan evaluasi menyeluruh, dan memastikan seluruh tindakan pencegahan benar-benar diterapkan di lapangan. Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama,” tutur Pierre.
Fokus pada Lesson Learned dan Kewaspadaan Blind Spot
Pada sesi utama, peserta mendapat pemaparan materi mendalam mengenai Lesson Learned Fatality Pelindo Grup Tahun 2026 yang mengulas kronologi insiden, akar penyebab, hingga tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Pemaparan ini bertujuan mengasah kemampuan pekerja dalam mengidentifikasi bahaya serta memperkuat budaya pelaporan (safety reporting).
Selain itu, forum juga memberikan edukasi khusus terkait Blind Spot Awareness. Mengingat tingginya mobilitas alat berat dan kendaraan operasional di terminal, pemahaman mengenai area titik buta (blind spot) operator/pengemudi menjadi krusial untuk mencegah kecelakaan di area kerja.
Melalui komunikasi, edukasi, dan pembelajaran berkelanjutan, PT Terminal Teluk Lamong terus konsisten memperkuat ekosistem pelabuhan yang aman, berdaya saing tinggi, dan berkelas dunia. (QGW)




