News

Fundamental Kuat 2025, BBCA Diprediksi Bangkit dari Tekanan

307
×

Fundamental Kuat 2025, BBCA Diprediksi Bangkit dari Tekanan

Sebarkan artikel ini

THEINDONEWS.COM – Analis pasar modal memproyeksikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berpotensi kembali menguat setelah mengalami tekanan cukup dalam sejak awal tahun 2026. Optimisme tersebut didorong oleh fundamental perseroan yang dinilai tetap solid dengan kinerja keuangan yang tumbuh berkelanjutan.

Sepanjang 2025, BCA mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun atau tumbuh 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp54,8 triliun. Capaian tersebut memperkuat posisi BCA sebagai salah satu bank dengan profitabilitas tertinggi di Indonesia.

Scroll down to see content
Advertisement

Meski demikian, saham BBCA tercatat mengalami penurunan hingga 19 persen sejak awal tahun 2026 hingga 7 April 2026. Pada perdagangan Rabu (8/4), harga saham masih bertahan di kisaran Rp7.000 per lembar. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan IHSG yang turun sekitar 15,79 persen secara year to date (YTD).

Di tengah tekanan tersebut, analis menilai kondisi ini sebagai anomali. Kinerja laba yang terus meningkat justru tidak diikuti dengan penguatan harga saham, yang saat ini sempat bergerak di kisaran Rp6.500—di bawah level psikologis Rp7.000.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebut kondisi ini sebagai peluang bagi investor. Menurutnya, saham BBCA saat ini berada dalam fase undervalued yang jarang terjadi untuk saham berkapitalisasi besar.

“Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas blue chip. Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat mendapatkan aset premium dengan harga diskon,” ujarnya.

Ia menjelaskan, secara historis saham BBCA diperdagangkan pada rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 4 hingga 5 kali. Namun, tekanan dari sentimen global dan rotasi sektor membuat valuasi saham ini terkoreksi cukup dalam.

Rendy memproyeksikan, ketika kondisi pasar kembali stabil, harga saham BBCA berpotensi mengalami rebound signifikan menuju level valuasi normalnya. Hal ini membuka peluang capital gain yang besar bagi investor yang masuk di harga bawah.

READ  IHSG Melesat Tembus Level 7.846, Didorong Arus Modal Asing dan Sentimen Global

Selain itu, investor juga diminta mencermati kinerja keuangan BCA pada kuartal I/2026 yang akan segera dirilis. Dengan tren efisiensi dan pertumbuhan kredit yang masih terjaga, laporan keuangan tersebut diperkirakan kembali mencatatkan kinerja positif.

Menurutnya, publikasi laporan keuangan berpotensi menjadi katalis yang mendorong minat investor institusi untuk kembali masuk ke saham BBCA. Jika hal tersebut terjadi, harga saham berpotensi naik dengan cepat.

Lebih lanjut, ia menilai investasi pada saham BBCA tidak hanya sekadar untuk jangka pendek, tetapi juga sebagai aset jangka panjang yang stabil. Dengan basis dana murah (CASA) yang kuat, efisiensi operasional, serta loyalitas nasabah, BCA dinilai memiliki ketahanan tinggi di tengah gejolak ekonomi.

“Investor yang masuk di saat harga tertekan berpotensi menikmati keuntungan jangka panjang, baik dari kenaikan harga maupun pembagian dividen,” pungkasnya. (KTZ)