News

Pertamina Gandeng Toyota, Bioetanol 2G Jadi Andalan Energi Masa Depan

307
×

Pertamina Gandeng Toyota, Bioetanol 2G Jadi Andalan Energi Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, usai pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, di Jakarta pada Senin, 20 April 2026. (Foto Istimewa)

THEINDONEWS.COM – Pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia terus menunjukkan kemajuan melalui kolaborasi antara Pertamina dan Toyota Motor Corporation. Kerja sama ini difokuskan pada proyek bioetanol berbasis teknologi generasi kedua (2G) dengan pendekatan multi-feedstock.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, mengatakan proyek ini memanfaatkan sumber daya domestik, seperti biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum sebagai bahan baku utama.

Scroll down to see content
Advertisement

Menurutnya, pendekatan tersebut mampu mengoptimalkan pemanfaatan limbah sekaligus meningkatkan efisiensi dalam produksi energi berkelanjutan.

“Kami melihat kolaborasi Pertamina dan Toyota menjadi contoh sinergi yang nyata. Kolaborasi antara BUMN dan investor global dalam membangun ekosistem energi masa depan,” ujarnya di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan, pemerintah mendorong percepatan realisasi proyek hingga tahap konstruksi agar implementasi dapat berjalan sesuai target, yakni paling lambat pada 2028.

“Ke depan, kami mendorong agar proses menuju kesepakatan ini dapat segera ditindaklanjuti hingga tahap konstruksi. Sehingga proyek dapat mulai berjalan sesuai target waktu yang telah direncanakan,” jelasnya.

Sementara itu, CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, menyebut pertemuan dengan pemerintah Indonesia menghasilkan kemajuan signifikan. Ia menilai kerja sama kini semakin mengarah pada kesepakatan konkret dalam pengembangan bioetanol di Indonesia.

“Capaian penting dari pertemuan ini adalah kemajuan menuju kesepakatan kerja sama pengembangan bioetanol di Indonesia,” ujarnya.

Maeda menambahkan, kesepakatan tersebut menjadi langkah strategis dalam mematangkan rencana investasi, termasuk kajian kelayakan ekonomi, penyusunan struktur proyek, hingga penetapan timeline implementasi.

Ia menegaskan bahwa kerja sama telah bergerak dari tahap penjajakan menuju fase yang lebih terukur, sehingga memberikan kejelasan arah dalam realisasi proyek.

Pengembangan bioetanol 2G dinilai sebagai solusi inovatif dalam pemanfaatan energi. Teknologi ini memungkinkan pengolahan bahan non-pangan dan limbah biomassa menjadi sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

READ  OJK Catat Transaksi Aset Kripto 2025 Capai Rp482,23 Triliun

Selain mendukung kebutuhan energi nasional, proyek ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar. Pemanfaatan sorgum sebagai bahan baku turut memberikan nilai tambah bagi ketahanan pangan.

Pemerintah sendiri mendukung pengembangan bioetanol melalui kebijakan mandatori biofuel, dengan roadmap implementasi mulai dari E5 pada 2026–2027, meningkat ke E10 pada 2028–2030, hingga target jangka panjang menuju E20.

Melalui kolaborasi ini, Indonesia diharapkan mampu mempercepat hilirisasi sektor energi sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan biomassa domestik dengan teknologi yang lebih maju dan berkelanjutan. (NLR)