News

Ritual Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi Sedot Ribuan Pengunjung

397
×

Ritual Kebo-keboan Alasmalang Banyuwangi Sedot Ribuan Pengunjung

Sebarkan artikel ini

THEINDONEWS.COM – Ritual adat Kebo-keboan Alasmalang kembali digelar meriah di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (28/6/2026). Ribuan warga bersama wisatawan domestik maupun mancanegara memadati lokasi untuk menyaksikan tradisi turun-temurun yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa memohon kesuburan tanah.

Prosesi adat diawali dengan kenduri desa, di mana masyarakat menikmati hidangan bersama berupa tumpeng dan kuliner khas Banyuwangi, Pecel Pithik. Setelah itu, ritual dilanjutkan dengan ider bumi, yakni arak-arakan puluhan “kerbau” mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin sebagai simbol pembersihan wilayah dan permohonan keselamatan.

Scroll down to see content
Advertisement

“Kerbau” dalam tradisi ini bukanlah hewan ternak, melainkan warga yang berdandan menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri jelaga hingga berwarna hitam pekat, mengenakan tanduk di kepala, serta gelang kerincing di tangan dan kaki.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan tradisi Kebo-keboan merupakan warisan budaya masyarakat agraris yang telah bertahan selama ratusan tahun dan terus dilestarikan secara turun-temurun.

“Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun. Warga melestarikannya secara turun-temurun. Saya menyampaikan apresiasi kepada sesepuh adat, budayawan, pemuda Alasmalang, dan seluruh pihak yang menjaga nyala tradisi tetap hidup,” ujar Ipuk.

Menurutnya, Kebo-keboan bukan sekadar atraksi budaya, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti kerja keras, gotong royong, kebersamaan, serta disiplin yang masih relevan hingga kini. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Tandang Bareng yang menjadi filosofi pembangunan Kabupaten Banyuwangi.

Suasana ritual semakin semarak ketika para peserta yang berperan sebagai “kerbau” menampilkan berbagai atraksi layaknya hewan yang sedang bekerja di sawah. Mereka berjalan merangkak, membajak sawah, berkubang di lumpur, bergumul, hingga berguling sepanjang rute arak-arakan. Perut mereka juga diikat dengan tali sebagaimana kerbau yang sedang menarik bajak.

READ  Tangani 2.766 Operasi SAR, Basarnas Dinilai Perlu Tambahan Anggaran

Keunikan tradisi ini berhasil memikat perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya Tara, wisatawan asal Amerika Serikat yang mengaku baru pertama kali menyaksikan ritual tersebut setelah berkunjung ke Kawasan Gunung Ijen.

“Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan,” ungkap Tara.

Ramainya pengunjung juga membawa berkah bagi pelaku usaha mikro di sekitar lokasi acara. Salah satunya Siti, pemilik warung yang mengaku omzet penjualannya meningkat signifikan selama pelaksanaan ritual.

“Mulai minuman sampai camilan semuanya laris. Alhamdulillah,” katanya.

Tradisi Kebo-keboan diperkirakan telah ada sejak abad ke-18 Masehi. Ritual ini berawal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa dengan menjelma menjadi kerbau sebagai simbol permohonan keselamatan, kesuburan lahan pertanian, dan hasil panen yang melimpah.

Selain di Desa Alasmalang, tradisi serupa juga masih dilestarikan masyarakat Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, sebagai bagian dari kekayaan budaya agraris Banyuwangi yang terus dijaga hingga kini.

Melalui pelestarian tradisi Kebo-keboan, Banyuwangi tidak hanya mempertahankan identitas budayanya, tetapi juga memperkuat daya tarik wisata budaya yang mampu mengundang ribuan wisatawan setiap tahunnya sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. (EYP)