News

Harga LNG Turun, Industri Keramik Optimistis Percepat Ekspansi dan Serap Ribuan Tenaga Kerja

337
×

Harga LNG Turun, Industri Keramik Optimistis Percepat Ekspansi dan Serap Ribuan Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
Seorang pekerja pabrik keramik mengoperasikan mesin. (Marcos Issa/Bloomberg News)

THEINDONEWS.COM – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menyambut positif kebijakan pemerintah yang menurunkan harga Liquefied Natural Gas (LNG) untuk kebutuhan industri menjadi US$13 per juta british thermal unit (MMBtu) mulai 29 Juni 2026. Kebijakan tersebut dinilai menjadi angin segar bagi industri keramik nasional yang selama ini menghadapi tingginya beban biaya energi.

Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan, penyesuaian harga LNG tersebut diperkirakan mampu menekan rata-rata biaya gas yang digunakan industri keramik menjadi sekitar US$9,5-10 per MMBtu. Angka tersebut setara dengan penurunan sekitar 38-40 persen terhadap komponen biaya produksi.

Scroll down to see content
Advertisement

Menurut Edy, selama ini biaya energi gas mencapai sekitar 50 persen dari total biaya produksi industri keramik. Dengan turunnya harga LNG, tekanan biaya yang selama ini menjadi tantangan utama bagi pelaku industri diharapkan dapat berkurang secara signifikan.

“Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja,” ujar Edy dalam keterangan tertulis, Senin (29/6/2026).

Meski demikian, ASAKI masih berharap pemerintah dapat meningkatkan kembali porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi sekitar 70-80 persen, sebagaimana pernah diterapkan sebelumnya. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya tahan industri nasional di tengah persaingan yang semakin ketat dengan produk impor, khususnya dari China dan India.

ASAKI juga meyakini kebijakan tersebut tidak hanya membantu mengurangi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Dengan kepastian pasokan gas dan iklim usaha yang semakin kondusif, industri keramik optimistis dapat merealisasikan rencana ekspansi pada periode 2025-2029.

Rencana ekspansi tersebut meliputi penambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, investasi senilai Rp12 triliun, serta potensi penciptaan sekitar 6.000 lapangan kerja baru.

READ  Bahlil Sebut Uji Coba B50 Tembus 70 Persen, Siap Diterapkan di Berbagai Moda Transportasi

“Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional,” kata Edy.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memutuskan menurunkan harga LNG yang dibeli industri dari sebelumnya berkisar US$20-23 per MMBtu menjadi US$13 per MMBtu.

Bahlil menjelaskan keputusan tersebut diambil setelah pemerintah menerima berbagai aspirasi dari asosiasi pelaku industri dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah kemudian menyusun langkah-langkah untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus melindungi lapangan kerja.

Selain menurunkan harga LNG, pemerintah juga memastikan harga gas bumi tertentu (HGBT) tetap berada di kisaran US$6,5-7 per MMBtu. Sementara itu, harga gas industri yang disalurkan melalui jaringan pipa di wilayah Jawa tetap dipertahankan sekitar US$9,6 per MMBtu.

Menurut Bahlil, tingginya harga gas yang selama ini ditanggung industri dipicu oleh penurunan produksi gas dari sejumlah kilang di Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta. Kondisi tersebut memaksa industri menggunakan pasokan LNG dari Papua, Sulawesi, dan Kalimantan dengan harga pasar yang jauh lebih tinggi.

Karena itu, pemerintah memandang perlu melakukan intervensi agar beban biaya energi industri dapat ditekan sehingga daya saing sektor manufaktur nasional tetap terjaga. (XAI)